Sabtu, 25 Mei 2019
Khartoum, 24 Mei 2019
Teruntuk sepasang bidadari ku, Ummi dan Abi di tanah air tercinta.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dibawah terik matahari 45° celcius, ingin ku kabarkan pada Ummi dan Abi bahwa disini aku baik-baik saja. Aku tak akan lagi menangis saat aku terjatuh. Karena aku tau, Ummi tak ada untuk mengusap air mata disisiku. Bahkan sekarang aku tumbuh dan menguat di negara yang tumbuhan pun enggan tumbuh disana.
Ku harap, Ummi dan Abi pun baik-baik saja disana. Semoga Ummi dan Abi selalu dalam lindungan Allah. Amin.
Ummi... Abi...
Ini adalah puasa ketiga ku di tanah Afrika. Puasa di negara yang siangnya adalah menjadi waktu yang paling sulit. Menahan haus dan lapar di tengah terik matahari yang menusuk ke dalam pori-pori.
Sungguh, Ramadhan tanpa Ummi dan Abi sangat berat ku lalui. Betapa hambarnya makanan saat sahur dan saat buka puasaku tanpa kehadiran Ummi dan Abi.
Tak ada yang menyiapkan kolak pisang kesukaanku. Tak ada yang bisa memenuhi keinginanku saat ku ingin berbuka dengan ini dan itu.
Ummi...
Sebentar lagi hari raya akan tiba. Dulu, aku sering menangis meminta baju baru. Tapi sekarang berbeda. Aku tak meminta itu lagi. Ummi jauh. Ummi tak ada disini. Hampir tiga kali lebaran aku tidak memakai baju baru hasil jahitan tangan Ummi. Aku juga tak ditemani oleh sup daging atau kue-kue lebaran buatan Ummi.
Tapi ketahuilah Ummi...
Melihat Ummi dan Abi tersenyum melalui via WhatsApp sudah cukup membuatku bahagia melebihi saat aku memakai baju baru.
Lebaran kali ini sangat berbeda dari dua tahun sebelumnya. Tak ada suara gema takbir keliling yang melewati jalanan depan rumah kita. Tak ada suara pekikan Ummi saat terkejut mendengar suara petasan di atas atap rumah kita. Tak ada suara merdu Abi yang memandu takbiran setelah usai salat berjamaah di rumah.
Ah... Terlalu banyak kenangan yang kini hanya bisa ku kenang.
Maafkan anak mu yang belum bisa pulang, Abi. Aku akan segera menyelesaikan studi agar cepat pulang melepaskan kerinduanku pada Ummi dan Abi.
Aku janji, kerinduanku, kerinduan Ummi dan Abi saat ini akan ku ganti dengan kesuksesanku nanti.
Ummi... Abi...
Sebenarnya ada yang ku inginkan melebihi dari doa-doa Ummi dan Abi di sepertiga malam.
Aku ingin Ummi disini.
Aku ingin Abi disini.
Agar aku tak perlu menunggu waktu yang tepat untuk pulang dan memeluk Ummi dan Abi lagi.
Ummi...
Pinjamkan aku dekapmu.
Aku ingin terlelap disana.
Abi...
Pinjamkan aku bahumu.
Aku ingin nyaman disana.
Ummi... Abi...
Aku sangat menyayangi kalian. Bahkan seorang pencuri hebatpun tak mampu mencuri rasa sayangku pada Ummi dan Abi.
Aku sangat mencintai kalian.
Bersamaan dengan sepucuk surat ini, ku bingkis puji-pujian, doa serta sepotong kerinduan bersama langit senja, hembusan angin, matahari tenggelam dan warna merah saga. Semuanya ku kirimkan hanya untuk kalian, Ummi dan Abi tercinta.
Semoga hari raya tahun depan kita bisa bersama. I miss you Ummi. I miss you Abi.
Peluk cium nanda,
Anak Ummi dan Abi di tanah rantau
Zainab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar